39. AL HAFIDZ (Dzat Yang Maha Menjaga) Allah Ta’ala sangat menginginkan agar hamba-hambaNya bisa selamat diakhirat kelak. Oleh sebab itu Allah Ta’ala selalu menjaga hamba-hambaNya agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Dengan cara, Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya serta Malaikat-MalaikatNya. Apabila kita menghadapi satu masalah, didalam hati kita Allah Ta'ala memberikan petunjukNya melalui Malaikat. Akan tetapi hawa nafsu akan membantah bisikan tersebut, sehingga hawa nafsupun membisikkan sesuatu. Sedangkan yang menjadi tugas kita adalah memilih, apakah memilih bisikan Malaikat atau bisikan hawa nafsu. Agar kiranya kita bisa memilih yang benar yaitu memilih bisikan Malaikat, maka kita harus faham dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Karena Al Qur’an berada didalam dada orang-orang yang diberi ilmu sebagai penguat untuk selalu memilih jalan ketaqwaan. Sesuai surat Al ‘Ankabuut (29) : 49 49. Sebenarnya Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. Oleh sebab itu tergantung pada masing-masing manusia itu sendiri, apakah dia mau berada dijalan yang lurus atau tidak? Apakah dia mau selamat atau tidak? Karena barang siapa yang mau mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dia akan selamat dan barang siapa yang mengingkari petunjuk Allah Ta’ala dia akan celaka. Allah Ta’ala telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang mau bertaqwa serta menurunkan RasulNya sebagai suri tauladan bagi manusia. Oleh sebab itu seorang muslim harus kenal siapa Tuhannya, paham apa yang terkandung didalam kitabNya dan paham sunnah-sunnah RasulNya, setelah itu diamalkannya didalam kehidupannya sehari-sehari. Apabila seseorang tidak kenal dengan Allah Ta’ala, tidak paham dengan Al Qur’an dan tidak paham dengan Sunnah-sunnah Rasulullah SAW, maka selamanya dia tidak akan selamat. Ibaratnya kita ingin menuju suatu tempat yang kita sendiri tidak mengetahui arah dan hambatan-hambatannya. Setelah itu ada seseorang yang sudah paham lalu memberikan peta kepada kita. Apabila kita mau menerimanya dan mengikuti petunjuk yang ada didalam peta tersebut, maka kita akan selamat sampai ketujuan. Akan tetapi apabila kita menolaknya, maka selamanya tidak akan sampai ketujuan dengan selamat. Kelemahan umat Islam saat ini adalah tidak kenal dengan Tuhannya (Allah Ta’ala), tidak paham dengan isi kitabnya (Al Qur’an) dan tidak paham dengan sunnah-sunnah Rasulnya Muhammad SAW. Kebanyakan mereka hanya sekedar membaca dan tidak mau memahami apalagi mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mereka mudah sekali disesatkan oleh paham-paham yang menyimpang dari kebenaran. Al Hafidz ini adalah benteng penjagaan Allah Ta’ala. Barang siapa yang masuk kedalamnya, maka dia tidak akan tergelincir dari jalan yang lurus sehingga bisa selamat didunia dan diakhirat. Akan tetapi harus ada syarat yang harus kita penuhi apabila ingin masuk kedalam benteng penjagaan Allah Ta’ala tersebut. Yaitu menerima petunjuk-petunjuk yang telah diturunkan oleh Allah Ta’ala, lalu memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari serta mengikuti sunnah-sunnah RasulNya Muhammad SAW. Allah Ta'ala telah menurunkan hukum-hukumNya yang terangkum didalam Al Qur’an, kemudian Allah Ta'ala mengutus seorang Rasul Muhammad SAW sebagai teladan (contoh) seseorang yang bisa menjalankan semua hukum-hukum tersebut. Oleh sebab itu semua hukum yang telah Allah Ta'ala berikan pasti bisa diamalkan oleh setiap manusia. Karena tidaklah mungkin Allah Ta'ala menurunkan suatu hukum yang tidak bisa dilaksanakan. Dan hal ini telah dibuktikan oleh Rasulullah SAW bahwa semua hukum-hukum yang ada didalam Al Qur’an bisa beliau laksanakan. Padahal beliau adalah manusia biasa seperti kita. Beliau makan, minum, tidur, menikah, bersedih, gembira, dan lain sebagainya. Aisyah berkata : “Jika kalian ingin melihat Al Qur’an berjalan, maka lihatlah Rasulullah SAW”. Al Qur’an adalah surat dari Allah Ta'ala yang ditujukan kepada setiap manusia. Dan yang pertama sekali menerima surat tersebut adalah Rasulullah SAW dengan perantaraan Malaikat JIbril As. Allah Ta'ala sangat senang apabila suratnya dibaca, difahami dan diamalkan didalam kehidupan sehari-hari. Karena Allah Ta'ala mengirimkan surat adalah untuk dilaksanakan isi yang terkandung didalamnya, bukan hanya sekedar dibaca. Ibaratnya ada seseorang yang mengirimkankan surat kepada temannya. Didalam surat itu dia berpesan supaya temannya membelikan dia sebuah buku. Setiap saat orang itu akan menunggu kapan temannya datang mengirimkan buku pesenannya. Dan apabila temannya mau membaca suratnya, setelah itu mau memahami isi suratnya, kemudian isi suratnya itu dilaksanakan, maka dia akan merasa sangat senang dan berterima kasih. Oleh sebab itu pada saat membaca Al Qur’an, hendaknya kita sadari dan rasakan bahwa Allah Ta'ala berbicara langsung dengan diri kita. Karena setiap ayat dari Al Qur’an adalah surat dari Allah Ta'ala yang dikirimkan kepada kita untuk kita baca, fahami dan amalkan. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila seseorang ingin berdialog dengan Robbnya (Allah Ta'ala), maka hendaklah dia membaca Al Qur'an”. (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi) Jangan sekali-kali kita membaca Al Qur’an justru untuk menilai orang lain. Karena Allah Ta'ala berfirman : “Amat besar kemurkaan disisi Allah Ta'ala terhadap apa-apa yang kamu katakan tetapi tidak kamu kerjakan”. Maksudnya adalah, kita pandai menilai dan mengajari orang lain, sedangkan kita sendiri tidak mengamalkannya. Apabila kita menginginkan selamat dan bahagia didunia dan diakhirat, maka jangan sekali-kali kita mengikuti hukum-hukum lain diluar hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala didalam Al Qur’an dan Al Hadits. Karena apabila kita mencari hokum-hukum yang lain, berarti kita termasuk orang-orang yang sesat yang akan celaka diakhirat kelak. Sesuai surat Al Ahzab (33) : 36 36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. Bagi orang-orang yang tidak mau menjalankan Al Qur’an dan Al Hadits, maka Allah Ta'ala menetapkannya sebagai orang yang sesat. Dan apabila Allah Ta'ala telah menetapkan dia sebagai orang yang sesat, maka dia pasti akan celaka diakhirat. Karena Allah-lah yang akan mengadili semua manusia. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa banyak petunjuk-petunjuk Allah (Al Qur’an dan Al Hadits) yang telah kita jalankan, dan seberapa banyak petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala yang kita lalaikan? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu menginginkan penjagaan-Mu, dengan cara menjalankan petunjuk-petunjukMu dan sunnah Rasul-Mu. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa tujuan Allah Ta'ala menurunkan Al Qur’an dan suri tauladan Rasul-Nya adalah untuk menyelamatkan hamba-hambaNya didunia dan diakhirat. Oleh sebab itu didalam hatinya tumbuh satu keyakinan “Saya tidak bisa selamat jika tidak mengikuti hukum-hukum Allah Ta'ala yang ada didalam Al Qur’an dan Al hadits”. Sehingga didalam hatinya tumbuh perasaan takut apabila tidak menjalankan Al Qur’an dan Al Hadits. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa sangat menginginkan dia bisa selamat didunia dan diakhirat, sehingga dia bersungguh-sungguh didalam memahami Al Qur’an dan Al Hadits, kemudian dia amalkan dengan sungguh-sungguh pula didalam kehidupannya sehari-hari. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, bantulah kami didalam mengamalkan apa-apa yang Engkau perintahkan dan menjauhi apa-apa yang Engkau larang serta mengikuti sunnah-sunnah Rasul-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal : Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah mengamalkan Al Qur’an dan Al Hadits, maka masalah hasilnya dia serahkan kepada Allah Ta'ala dan dia sandarkan keselamatan dirinya hanya kepada Allah Ta'ala. Didalam kehidupan ini selama kita masih bernyawa kita pasti akan berperang melawan hawa nafsu sampai ajal kita menjemput. Dan disini kita dituntut untuk menang agar bisa selamat didunia dan diakhirat. Sedangkan bagaimana caranya agar kita bisa menang? Caranya adalah mengisi akal dengan tiga ilmu, yaitu ilmu mengenal Allah Ta'ala, Al Qur’an dan Al Hadits. Karena hawa nafsu bisa dikendalikan dengan akal yang telah terisi dengan ketiga ilmu ini. Oleh sebab itu hendaknya kita bersungguh-sungguh didalam memahami serta mengamalkan ketiga ilmu tersebut. G. Sikap Orang Mukhlis Hasil apapun yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya, maka dia terima dengan ikhlas dan senang. Kemudian dia akan bersungguh-sungguh lagi didalam mengamalkan Al Qur’an dan Al Hadits. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Hafidz Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia selalu dijaga oleh Allah Ta’ala karena ia sudah mengikuti petunjuk-petunjuk Allah Ta'ala dan selalu memohon perlindungan dan penjagaan kepada-Nya dari segala sesuatu yang akan merusak aqidahnya. Setelah itu ia akan mengajak manusia agar mengikuti petunjuk-petunjuk Allah Ta'ala yang ada didalam Al Qur’an dan Al Hadits. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Hafidz Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk menjaga manusia agar mereka tidak tersesat dari jalan yang lurus, sesuai dengan apa yang Engkau perintahkan dan apa yang Engkau larang kami melakukannya. Agar manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya keselamatan itu baik didunia maupun diakhirat adalah karena penjagaan-Mu kepada mereka.